Kamis, 24 November 2022

Sepotong Dialog Selamatkan Fahmi

Tahun 1980-an. Auditorium Dewan Kesenian Makassar (DKM) dipadati penonton. Malam itu, naskah drama “Uleng Lolo Labu’ede”, karya A.M. Mochtar, dipentaskan. Sutradaranya Fahmi Syariff, dan saya berperan sebagai “Petta Pa’bicara” (selevel perdana menteri kerajaan). Banyak penonton yang hadir, termasuk mahasiswa dan para dosen. Salah seorang guru besar yang sempat saya ingat turut hadir adalah Prof Dr Abu Hamid, Antropolog Unhas asal Sinjai yang juga peminat teater.

Langngapako Antu, Fahmi!

 

Sekali waktu, saya dan Fahmi Syariff bersama-sama di Tamalanrea. Aktivitas di Baraya - Jalan Sunu, 1980-an, sudah mulai ditinggalkan sejak berfungsinya kampus Unhas yang baru. Kami sedang mengikuti kuliah “Analisis Puisi Haiku” (Kajian Ilmu Perbandingan Puisi Dunia, khusus Jepang) dari dosen Hamzah DaEng Mangemba. Tugas baca apresiasi yang telah diberikan akan didiskusikan hari itu. 

Maeko Rong Boyai I Fahmi

 

“Kuliah hari ini, Kak Fahmi. Kita ditunggu Pak Mangemba sekarang,” sapa saya.

“Ban motor lagi bocor. Nanti minggu depan saya ikut,” jawab Fahmi tanpa beban.

“Tapi Pak Mangemba tidak mau memberi saya kuliah tanpa Kak Fahmi,” saya menjelaskan.

“Ha? Kenapa bisa?” tanya Fahmi heran.

10 Tahun Mahasiswa, Tak Sampai-sampai Sarjananya

Fahmi merampungkan sekolahnya di SMA Negeri 198 Bulukumba dan lanjut memilih Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin Makassar (saat itu dikenal dengan nama Kampus Baraya) di tahun 1967. Di kampung saya, nama Fahmi Syariff menjadi harum. Selain menjadi mahasiswa di  universitas favorit, dia pun dikenal sebagai seniman drama yang aktif di Dewan Kesenian Makassar (DKM) bersama Prof Dr Ahmad Mattulada, yang juga berasal dari Bulukumba.

Hidup Tak Hanya Berkisah Hari Ini, Di Sini, Lalu Mati

 

PELUNCURAN DAN DISKUSI BUKU. Rahman Rumaday (kedua dari kiri) menyerahkan buku “Maharku: Pedang dan Kain Kafan, Jilid 2”, kepada tiga pembicara yakni Yudhistira Sukatanya (kedua dari kanan), Mahrus Andis (paling kanan), dan Lily Rachim, pada acara peluncuran dan diskusi buku, di Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, Jl Sultan Alauddin, Makassar, Rabu, 23 November 2022. (Foto: Asnawin Aminuddin / PEDOMAN KARYA)