Sabtu, 25 Mei 2013
Penyusunan Risalah Islam Muhammadiyah Perlu Lebih Komprehensif
RAIH DOKTOR. Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulsel KH Alwi Uddin (keempat dari kiri) foto bersama tim penguji, antara lain Prof Din Syamsuddin (penguji eksternal/paling tengah) dan Prof Qadir Gassing (ketiga dari kiri), seusai mengikuti ujian promosi doktor, di Gedung PPs UIN Alauddin Makassar, Senin, 20 Mei 2013. (Foto: http://www.umm.ac.id)
Jumat, 26 April 2013
Ingin Menjadi Penyeimbang di DPRD Makassar
CALEG PPP. Syahrir Badaruddin, salah seorang calon legislator DPRD Kota Makassar dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP), ingin menjadi penyeimbang antara legislatif dengan eksekutif, dengan bermodalkan pendidikan (sekarang kuliah S3) dan berbagai pengalaman. "Pengetahuan, pendidikan, dan pengalaman para legislator harus seimbang dengan eksekutif, agar mereka bisa saling bersinerji dengan baik dan berkualitas," katanya. (Foto: Asnawin)
Seorang Pria Diusir karena Terlalu Tampan
Tidak selamanya wajah tampan itu membawa kebahagiaan atau kesenangan. Sebaliknya, wajah tampan bisa saja membawa sengsara atau semacamnya. Itulah yang dialami pria tampan dan aktor asal Uni Emirat Arab bernama Omar Borkan Al Gala. Dia bersama dua pria lainnya diusir dari Saudi Arabia minggu lalu saat menghadiri Janadriyah Heritage and Culture Festival di Riyadh, karena dianggap terlalu tampan.
Kamis, 18 April 2013
Kemiskinan Harus Dilawan dengan Keterampilan
MASYARAKAT MISKIN. Kepala Biro Bina Kesejehteraan Setda Provinsi Sulsel Drs Hj Kurnia MSi (kedua dari kanan) didampingi Kadis Sosial, Kebudayaan, dan Pariwisata Kabupaten Takalar Drs H Abbas MM (kedua dari kiri), pada pembukaan Pelatihan dan Pembinaan Masyarakat Miskin di Daerah Pesisir yang diikuti 100 peserta, di Gedung PKK Kabupaten Takalar, Selasa, 2 April 2013. (Foto: Asnawin)
Ketika Sulsel Hilang dalam Sejarah Pers Nasional
Adalah fakta sejarah, ketika Manai Sophiaan, kelahiran Takalar yang menerbitkan Surat Kabar “Soeara Indonesia” di Makassar (1945), kemudian tidak bebas dari tekanan pemerintah Belanda, sehingga Manai Sophiaan berlayar ke Pulau Jawa dengan menggunakan perahu Phinisi. Dia menuju Solo untuk menghadiri Kongres Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) yang pertama, tanggal 9 Februari 1946 di Solo.
- Burhanuddin Amin -
Langganan:
Postingan (Atom)




