Senin, 02 Mei 2011
Kopertis IX Sulawesi Miliki 60 Profesor
GURU BESAR BARU. Delapan dari 11 Guru Besar baru Kopertis Wilayah IX Sulawesi yang menerima Surat Keputusan (SK) pada upacara peringatan Hardiknas 2011, di halaman kantor Kopertis IX Sulawesi. Dari kiri ke kanan, Prof Dr Hj Masdar SE MSi, Prof Dr Said Sampara Salman SH MHum, Prof Dr Ir Zulkifli MM, Prof Dr A Baso Amang SE MSi, Prof Dr H Achmad Gani SE MSi, Prof Dr Ir Andi Muhibuddin MP, Prof Dr Syafiuddin MSi, Prof Dr Mariana SE MSi. (Foto: Wahab/Humas Kopertis IX Sulawesi)
---------------
Kopertis IX Sulawesi Miliki 60 Profesor
Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah IX Sulawesi telah memiliki 60 Guru Besar atau profesor (tidak termasuk yang sudah meninggal dunia dan yang sudah pensiun) dari berbagai bidang ilmu, termasuk 11 orang yang menerima Surat Keputusan Pengangkatan Guru Besar dari Mendiknas, pada upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2011, di halaman upacara Kantor Kopertis IX Sulawesi, Jl Bung km-9, Makassar, Senin, 2 Mei 2011.
Ke-11 Guru Besar atau profesor baru tersebut adalah :
1. Prof Dr Mariana SE MSi (bidang ilmu ekonomi, dosen DPK pada STIEM Bongaya, Makassar)
2. Prof Dr Syafiuddin MSi (pertanian, DPK Unismuh Makassar)
3. Prof Dr Ir Andi Muhibuddin MP (pertanian, DPK Universitas 45, Makassar)
4. Prof Dr H Achmad Gani SE MSi (ekonomi, DPK UMI Makassar)
5. Prof Dr A Baso Amang SE MSi (ekonomi, DPK Universitas Indonesia Timur, Makassar)
6. Prof Dr Ir Zulkifli MM (pertanian, DPK Universitas Islam Makassar)
7. Prof Dr Renny Mintje Sumarauw MSi (administrasi publik, DPK Universitas Kristen Tomohon, Sulawesi Utara)
8. Prof Dr Said Sampara Salman SH MHum (ilmu hukum, dosen tetap yayasan UMI Makassar)
9. Prof Dr Hj Masdar SE MSi (ekonomi, DTY UMI Makassar)
10. Prof Dr Hj Jeni Kamase SE MSi (ekonomi, DTY UMI Makassar)
11. Dr Johanis Ohotimur (teologia, DTY STTF Seminari Pineleng, Sulawesi Utara). (asnawin)
Sabtu, 23 April 2011
Briptu Eka Frestya Ingin Jadi Model
Briptu Eka Frestya di
NTMC Polri. Brigadir (Polisi) Satu Eka Frestya adalah salah satu duta
Kepolisian RI dalam menjalankan tugas mendekatkan korps dengan masyarakat.
Melalui televisi, ia dan sejumlah rekannya kerap tampil menyampaikan informasi
lalu lintas. (Foto: Yahoo!/Bernard Chaniago)
Jumat, 15 April 2011
Seminar Road to Smart Cities Award 2011
SMART CITIES. Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi Kota Surabaya, Ir Chalid Buhari, tampil sebagai pembicara pada Seminar Road to Smart Cities Award 2011, yang diadakan oleh harian Warta Ekonomi, di Hotel Santika, Makassar, Kamis, 14 April 2011. Seminar diikuti beberapa wartawan, puluhan pejabat dan staf Humas, Infokom, Pengolahan Data Elektronik dari berbagai kabupaten dan kota se-Sulsel, serta beberapa pejabat dari Kalimantan Timur dan Sulawesi Tengah. (Foto & teks: Asnawin)
-------------------
Minggu, 13 Maret 2011
Pertemuan Forum Pembaca Kompas di Makassar
Puluhan pembaca dan penulis menghadiri Forum Pembaca Kompas - Kompas Audience Engagement (FPK-KAE), di Hotel Santika Makassar, Ahad, 13 Maret 2011. Pertemuan diisi dengan dialog dan diselingi acara door prize, serta pemberian hadiah utama. (Foto: Asnawin)
-----------
Pertemuan Forum Pembaca Kompas di Makassar
Oleh: Asnawin
Puluhan pembaca dan penulis menghadiri Forum Pembaca Kompas Kompas Audience Engagement (FPK-KAE), di Hotel Santika Makassar, Ahad, 13 Maret 2011. Wakil Pemimpin Umum Kompas, St Sularto, yang membuka pertemuan mengatakan, Forum Pembaca Kompas merupakan salah satu cara untuk menunjukkan bahwa Kompas berorientasi pada pelanggan.
Dalam acara yang didahului dengan door prize dan serah terima Forum Pembaca Kompas (FPK)-9 kepada FPK-10 Makassar, dilangsungkan dialog yang menampilkan tiga pembicara dari Kompas, yakni St Sularto, Abun Sanda, dan Dedy Pristiwanto. Dialog dipandu Titut Kitot.
Dalam sesi tanya jawab, para penulis yang diundang umumnya mengaku tulisan yang mereka kirim ke Kompas jarang dimuat, bahkan tidak sedikit di antara mereka yang tulisannya belum pernah dimuat.
Mereka mengeritik Kompas yang terlalu sering memuat tulisan opini dari beberapa orang yang sama dan umumnya berasal dari Jakarta dan pulau Jawa, sementara penulis dari luar Jawa, terutama dari kawasan timur Indonesia jarang dimuat tulisannya.
Mereka juga meminta penjelasan dan kiat-kiat agar tulisan opini mereka dapat dimuat di Kompas, serta mengusulkan agar Kompas mengadakan pelatihan khusus bagi penulis.
Dari sisi pelayanan, para anggota FPK Makassar mengaku cukup puas, tetapi ada juga yang mengaku koran mereka kerap terlambat diantar ke rumah atau kerap diantar dua edisi berturut-turut pada hari berikutnya, sehingga mereka merasa dirugikan, karena mereka berharap bisa membaca harian Kompas pada pagi hari sebelum beraktivitas.
Mengenai isi dan rubrik yang disajikan Kompas, para peserta umumnya juga mengaku cukup puas, tetapi mereka berharap ada ruangan atau halaman khusus berita-berita Makassar dan sekitarnya, serta menambah porsi berita-berita pendidikan.
Selain itu, ada juga peserta yang mengemukakan bahwa dirinya beberapa kali menemukan berita yang dimuat di harian Kompas tidak lengkap unsur 5W+1H, terutama berita-berita wawancara.
''Kadang-kadang ada berita Kompas yang tidak menyebutkan kapan dan dimana wawancara dilakukan,'' ungkap peserta yang mengaku berlatarbelakang wartawan tersebut.
Mantan Sekda Provinsi Sulsel HM Parawansa yang mengaku berlangganan Kompas sejak tahun 1971, mengeritik Kompas karena dianggap kurang ''berani'' seperti koran lain.
Esais Asdar Muis RMS juga mengeritik Kompas karena memakai kata ''mirip'' ketika dan bukan memakai ''diduga'' terhadap Gayus Tambunan ketika tertangkap kamera sedang menonton pertandingan tenis di Bali, padahal statusnya waktu itu adalah tahanan.
Asdar Muis juga mengeritik foto-foto yang ditampilkan pada halaman satu, karena menganggap jarang sekali ada foto yang benar-benar berkualitas dari sisi jurnalistik.
Peserta lain mengatakan, Kompas pernah mendapat penghargaan sebagai pengguna bahasa yang baik, tapi kelihatannya ada penurunan dalam beberapa tahun terakhir dari segi kualitas bahasa.
Dosen Unhas, Prof Nurhayati Abbas, yang mengaku membaca kompas sejak akhir tahun 1966, mengusulkan agar Kompas menambah artikel mengenai lingkungan hidup.
Menanggapi pertanyaan, kritikan, dan usulan peserta pertemuan, Wakil Pemimpin Umum Kompas, St Sularso, mengatakan, Kompas sama sekali tidak melihat siapa dan dari daerah mana orang yang mengirim tulisan ke Kompas, jadi tidak unsur pilih kasih dan sebagainya.
''Kompas setiap hari menerima 70 sampai 80 tulisan, tapi yang dimuat hanya 5-6 tulisan,'' ungkapnya.
Dia menambahkan, dalam hal isi pemberitaan, Kompas tidak lagi cover booth side, tapi cover all side. Tentang pemberitaan Kompas yang dinilai ''kurang berani'', Sularso mengatakan Kompas bukan kurang berani, melainkan selalu berhati-hati.
''Kami dalam posisi selalu hati-hati,'' ungkapnya sambil tersenyum.
Abun Sanda yang pernah menjadi wartawan harian Fajar di Makassar dan kini menangani manajemen bisnis Kompas, mengaku pernah bertugas selama 22 tahun di bagian redaksi Kompas.
''Saya sering lihat kerja teman-teman di desk opini. Saya juga sering diskusi dengan penulis-penulis ternama dan mereka mengaku setiap hari membaca artikel opini Kompas. Tulisan yang bagus itu bahasanya sederhana, tapi gagasannya luar biasa. Gagasan itu sangat penting. Kadang-kadang tulisannya bagus, bahasanya sangat bagus, tapi tidak jelas apa idenya. Orang-orang besar sudah tidak lagi berpikir soal gaya menulis, yang penting idenya,'' tutur Abun.
Dia mengungkapkan bahwa manajemen bisnis Kompas kini mencoba menawarkan sistem berlangganan selama 15 tahun ke depan dengan imbalan emas 15 gram.
Selasa, 01 Maret 2011
Saat-saat Bahagia di Bulukumba
Saat sedang sedang bercanda, salah seorang adik saya, Asran Faizal yang biasa kami panggil Accang, meminta saya menukar sepeda motornya yang masih tergolong baru dengan sepeda motor saya yang sudah berusia belasan tahun. Selain itu, dia juga langsung mengeluarkan dan memberikan semua uang yang ada padanya kepada saya.
----------------
Saat-saat Bahagia di Bulukumba
Oleh: Asnawin
Salah satu saat-saat bahagia dalam hidupku adalah saat berkumpul dan bercanda bersama keluarga di Bulukumba. Kebahagiaan itu akan menjadi sempurna kalau saat berkumpul itu, tetta dan mama juga ada.
Kemarin, saya berada di Bulukumba dan berkumpul bersama orangtua, saudara-saudara, ipar-ipar, serta para keponakan. Seperti biasa, suasana gembira selalu terlihat dan rasa senang selalu terasa.
Saat sedang bercanda, salah seorang adik saya, Asran Faizal yang biasa kami panggil Accang, meminta saya menukar sepeda motornya yang masih tergolong baru dengan sepeda motor saya yang sudah berusia belasan tahun. Selain itu, dia juga langsung mengeluarkan dan memberikan semua uang yang ada padanya kepada saya.
Saya hanya tersenyum dan berterima-kasih kepadanya. Saya tahu dia ikhlas, tetapi saya juga masih menyukai sepeda motor saya, karena jasanya cukup besar dan hingga kini masih kuat dipakai bolak-balik Makassar-Bulukumba.
Ketika berjalan meninggalkan adik saya yang masih memegang dan menyodorkan uangnya, tiba-tiba saya terbangun. Ternyata saya hanya sedang bermimpi. Saya lalu berucap; ''Astaghfirullah, Allahu akbar.''
Saat berdiri menuju kamar mandi, saya menangis sambil tersenyum bahagia. Saya menangis karena mengenang adik saya, Accang, yang telah mendahului kami dua tahun silam. Saya tersenyum bahagia karena ketika sudah meninggal pun, dia masih ingin membantu dan membahagiakan saya.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa adik kami. Ampunilah juga dosa-dosa ibu kami. Berikanlah mereka tempat yang mulia di sisi-Mu.
Makassar, 1 Maret 2011
Langganan:
Postingan (Atom)




