Kontrak Elektronik Masih Rawan
Makassar, 15 Oktober 2009
Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Prof Dr H Syahruddin Nawi SH MH, mengingatkan bahwa kontrak elektronik (e-contract) masih rawan untuk diterapkan, antara lain karena menyangkut keabsahan (validity) kontrak, perlindungan, keamanan, dan kerahasiaan dokumen kontrak, serta pembuktian kontrak.
‘’Dalam hubungan dengan kontrak elektronik, para konsumen atau debitur harus hati-hati akan kemungkinan adanya perusahaan fiktif yang dapat merugikan, yakni ketika pembayaran telah dilakukan namun barang pesanan tak kunjung tiba,’’ ungkapnya saat membawakan orasi ilmiah pada wisuda sarjana VIII dan Dies Natalis XV Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Damarica Palopo, Sulawesi Selatan, 15 Oktober 209.
Syahruddin Nawi yang sehari-hari juga Rektor Universitas Pancasakti Makassar, mengatakan, internet memang telah menjelma menjadi media yang digunakan untuk melaksanakan aktivitas-aktivitas bisnis atau perdagangan elektronik (e-commerce). Transaksi dan kontrak-kontrak dagang pun tidak lagi merupakan paper based economy, tetapi telah bergeser menjadi digital electronic based economy.
‘’Namun fakta menunjukkan bahwa perkembangan teknologi informasi melebihi atau jauh berkembang pesat, sedangkan pengaturan hukumnya jalan di tempat,’’ katanya.
Meskipun banyak kekurangannya sehingga diperlukan kehati-hatian, kehadiran kontrak elektronik melalui internet sebagai teknologi bersifat global dan interaktif tetap tak bisa dihindarkan dan memang banyak manfaatnya.
Syahruddin Nawi kemudian menyebut keunggulan kontrak elektronik antara lain biayanya lebih murah, berpeluang menjangkau ratusan juta calon konsumen, serta ditunjang oleh berbagai macam kemungkinan yang dapat berkembang.
‘’Manfaat-manfaat tersebut telah mulai dapat diwujudkan dan dirasakan,’’ tuturnya.
Acara wisuda dan dies natalis STIH Damarica turut dihadiri Koordinator Kopertis IX Sulawesi Prof Dr HM Basri Wello MA, Walikota Palopo HPA Tenriajeng, pengurus yayasan dan pimpinan STIH Damarica Palopo, para wisudawan, serta sejumlah undangan. (asnawin/humas kopertis IX sulawesi)
Selasa, 03 November 2009
Minggu, 01 November 2009
Oleh-oleh Konferensi Pendidikan : What a Wonderful ‘Child’!
Oleh-oleh Konferensi Pendidikan : What a Wonderful ‘Child’!
Wednesday, October 28, 2009 12:56 PM
From: "Mar diana"
Add sender to Contacts
To: jurnalisme@yahoogroups.com
Cc: mediacare@yahoogroups.com
Apa yang kita pikirkan ketika melihat anak menendang bola? Perasaan senang karena melihat mereka asyik bermain. Mungkin hanya itu yang ada di pikiran kita. Tapi, bagi seorang peneliti pendidikan, Dr. Pamela Phelp, PHd, tak ada yang sia-sia dalam setiap pengalaman anak. Bahkan ketika dia menendang bola saja, banyak perkembangan yang terjadi, yaitu perkembangan motorik, dia belajar konsep diri (self concept), dan bagaimana dia belajar membangun kesehatan fisiknya. Begitu juga seorang bayi, dengan hanya melihat dan mendengar saja, dia sedang banyak belajar. Dalam sebuah penelitian di dapat bahwa terjadi kerja otak yang sangat dahsyat pada bayi yang sedang melihat dan mendengar sesuatu. Subhanallah!
Hal ini disampaikan dalam Konferensi Pendidikan II ‘Learning with Meaning’di hotel Le Meridien, 23-25 Oktober 2009. Konferensi ini diselenggarakan oleh sekolah Al Falah, Kelapa Dua Wetan, rutin setahun sekali. Banyak ilmu yang saya dapat di konferensi tersebut, terutama ilmu tentang dunia anak dan perkembangannya. Ternyata selama ini saya, dan para ibu mungkin telah mengabaikan proses pengalaman yang terjadi dalam diri anak, yang seharusnya didukung jika kita tahu ilmunya. Betapa, masa anak di usia dini itu sangat penting untuk diperhatikan. Pamela, bersama seorang rekannya Dr.Laura Stannard, PHd melakukan penelitian tentang anak usia dini di Creative Center for Childhood Research & Training (CCCRT) selama 40 tahun. Mereka juga menjadi pengajar anak-anak TK di Florida, USA . (Hebat ya, anak TK diajar sama doctor lulusan S3, gimana engga pinter ya anak sana !)
Pamela mengatakan, setiap apapun yang kita lakukan akan mendukung semua area perkembangan dari setiap anak. Dan setiap pengalaman anak membangun semua domain perkembangannya. Contohnya adalah anak yang menendang bola diatas. Karena itu, kita, orang dewasa (orangtua dan guru) harus mengetahui tahapan perkembangan mereka, juga tahapan main mereka. Jadi, harusnya tak ada ibu-ibu yang melarang anak-anaknya bermain kotor, atau para ibu yang over protected melarang anak melakukan ini atau melakukan itu. “Ini bahaya, nak,” atau “Duh, jangan kesitu! “Jangan pegang itu!” Tapi, sebaiknya, arahkan keingintahuan mereka dengan memberikan makna. “Ini fungsinya buat apa?”, buat mereka mengalaminya.
Karena, dari pengalaman anak belajar. Misalnya, ketika anak mencampur air berwarna merah dan kuning, betapa senangnya ketika mereka menemukan warna jingga. Itu adalah sesuatu yang baru bagi mereka, dan proses itu akan diingatnya seumur hidup.
Banyak penelitian-peneliti an yang disampaikan Pamela dan Laura, termasuk penelitian otak. Diantaranya, bahwa anak-anak yang terlalu berlebihan menonton TV dan berinteraksi dengan komputer akan mengubah fungsi otak anak. Gambar dalam tayangan TV yang cepat sekali berubah-ubah menyebabkan anak sulit fokus dan berkonsentrasi pada sesuatu, disamping membuat anak menjadi kecanduan. Sebaiknya anak dibawah usia 2 tahun tak disediakan TV dirumah. Untuk itu, Laura dan Pamela sangat melarang TV ada di rumah mereka.
Begitu juga dengan penggunaan komputer yang terlalu berlebihan, akan menjauhkan diri anak dari dunianya, yaitu dunia bermain. Banyak dunia main yang lebih baik buat anak dibanding play staton, game atau sebangsanya. Bermain balok atau bermain peran (main ibu-ibuan) menjadi alternatif permainan yang sangat bermanfaat. Bermain peran akan membantu meningkatkan kemampuan berpikir anak, serta melatih daya imajinasi mereka. Sedangkan bermain balok, membantu anak mencipta sesuatu, melatih kreatifitias, serta anak belajar merepresentasikan dunia nyatanya secara realistis, juga ketika bermain balok anak juga belajar matematika.
Banyak hal yang tidak dapat saya ceritakan semua dari hasil konferensi. Ada bagaimana mengajarkan Matematika yang menyenangkan buat anak, ada bagaimana tahapan menulis yang benar, dll. Yang jelas, materi Pamela dan Laura tentang dunia anak membuat saya semakin mencintai anak-anak. Betapa indahnya dunia mereka, kalau saja kita tahu ilmunya. Yang paling penting adalah, anak-anak akan bahagia jika kita bahagia. Satu lagi penelitian tentang otak, ketika kita tertawa otak akan mengeluarkan reaksi kimia positif yang dalam hitungan detik akan membuat kita menjadi lebih baik. Dan selaras dengan teori The Law of Attraction, di dalam otak ada neuron seperti cermin yang akan merefleksikan emosi seseorang. Bila dia berada pada kondisi sedih dan kecewa, maka otomatis seluruh kondisi tubuhnya mencerminkan dia seseorang yang sedih dan kecewa, dan akan memancar pula hal-hal negatif dari sekitarnya. Begitu pula sebaliknya. Coba buktikan, ketika kita sedang dalam kondisi bahagia, cobalah menegur anak, maka dia akan tersenyum dan senang berinteraksi dengan kita.
Karena itu, buat para ibu yang ingin membuat anaknya nyaman dan selalu bahagia, maka berbahagia dan tersenyumlah, agar mereka juga dapat belajar dalam tahapan usia mereka masing-masing.
Jika anak banyak di cela, ia akan tebiasa menyalahkan
Jika anak biasa dimusuhi, ia akan terbiasa menentang
Jika anak mengenyam rasa aman, ia akan terbiasa mengandalkan diri dan percaya orang sekitarnya
Jika Anak dikerumuni keramahan, ia akan terbiasa berpendirian :
”Sungguh Indah dunia ini!”
Bagaimanakah anak Anda?
(Dorothy Low Nolte, Children learn what they live with)
NB : Silahkan memperoleh buku Panduan Pendidikan dengan Sentra, yang memuat metode belajar berikut dengan tahapan perkembangan dan tahapan bermain anak usia dini.
Buku terdiri dari 1 paket (7 buku/7 sentra).
Untuk pemesanan hubungi :
CP : Mardiana
HP : 0816 11 80 133 / 021-23 777 165
Email : diana20377@gmail. com
www.ana165@multiply .com
Wednesday, October 28, 2009 12:56 PM
From: "Mar diana"
Add sender to Contacts
To: jurnalisme@yahoogroups.com
Cc: mediacare@yahoogroups.com
Apa yang kita pikirkan ketika melihat anak menendang bola? Perasaan senang karena melihat mereka asyik bermain. Mungkin hanya itu yang ada di pikiran kita. Tapi, bagi seorang peneliti pendidikan, Dr. Pamela Phelp, PHd, tak ada yang sia-sia dalam setiap pengalaman anak. Bahkan ketika dia menendang bola saja, banyak perkembangan yang terjadi, yaitu perkembangan motorik, dia belajar konsep diri (self concept), dan bagaimana dia belajar membangun kesehatan fisiknya. Begitu juga seorang bayi, dengan hanya melihat dan mendengar saja, dia sedang banyak belajar. Dalam sebuah penelitian di dapat bahwa terjadi kerja otak yang sangat dahsyat pada bayi yang sedang melihat dan mendengar sesuatu. Subhanallah!
Hal ini disampaikan dalam Konferensi Pendidikan II ‘Learning with Meaning’di hotel Le Meridien, 23-25 Oktober 2009. Konferensi ini diselenggarakan oleh sekolah Al Falah, Kelapa Dua Wetan, rutin setahun sekali. Banyak ilmu yang saya dapat di konferensi tersebut, terutama ilmu tentang dunia anak dan perkembangannya. Ternyata selama ini saya, dan para ibu mungkin telah mengabaikan proses pengalaman yang terjadi dalam diri anak, yang seharusnya didukung jika kita tahu ilmunya. Betapa, masa anak di usia dini itu sangat penting untuk diperhatikan. Pamela, bersama seorang rekannya Dr.Laura Stannard, PHd melakukan penelitian tentang anak usia dini di Creative Center for Childhood Research & Training (CCCRT) selama 40 tahun. Mereka juga menjadi pengajar anak-anak TK di Florida, USA . (Hebat ya, anak TK diajar sama doctor lulusan S3, gimana engga pinter ya anak sana !)
Pamela mengatakan, setiap apapun yang kita lakukan akan mendukung semua area perkembangan dari setiap anak. Dan setiap pengalaman anak membangun semua domain perkembangannya. Contohnya adalah anak yang menendang bola diatas. Karena itu, kita, orang dewasa (orangtua dan guru) harus mengetahui tahapan perkembangan mereka, juga tahapan main mereka. Jadi, harusnya tak ada ibu-ibu yang melarang anak-anaknya bermain kotor, atau para ibu yang over protected melarang anak melakukan ini atau melakukan itu. “Ini bahaya, nak,” atau “Duh, jangan kesitu! “Jangan pegang itu!” Tapi, sebaiknya, arahkan keingintahuan mereka dengan memberikan makna. “Ini fungsinya buat apa?”, buat mereka mengalaminya.
Karena, dari pengalaman anak belajar. Misalnya, ketika anak mencampur air berwarna merah dan kuning, betapa senangnya ketika mereka menemukan warna jingga. Itu adalah sesuatu yang baru bagi mereka, dan proses itu akan diingatnya seumur hidup.
Banyak penelitian-peneliti an yang disampaikan Pamela dan Laura, termasuk penelitian otak. Diantaranya, bahwa anak-anak yang terlalu berlebihan menonton TV dan berinteraksi dengan komputer akan mengubah fungsi otak anak. Gambar dalam tayangan TV yang cepat sekali berubah-ubah menyebabkan anak sulit fokus dan berkonsentrasi pada sesuatu, disamping membuat anak menjadi kecanduan. Sebaiknya anak dibawah usia 2 tahun tak disediakan TV dirumah. Untuk itu, Laura dan Pamela sangat melarang TV ada di rumah mereka.
Begitu juga dengan penggunaan komputer yang terlalu berlebihan, akan menjauhkan diri anak dari dunianya, yaitu dunia bermain. Banyak dunia main yang lebih baik buat anak dibanding play staton, game atau sebangsanya. Bermain balok atau bermain peran (main ibu-ibuan) menjadi alternatif permainan yang sangat bermanfaat. Bermain peran akan membantu meningkatkan kemampuan berpikir anak, serta melatih daya imajinasi mereka. Sedangkan bermain balok, membantu anak mencipta sesuatu, melatih kreatifitias, serta anak belajar merepresentasikan dunia nyatanya secara realistis, juga ketika bermain balok anak juga belajar matematika.
Banyak hal yang tidak dapat saya ceritakan semua dari hasil konferensi. Ada bagaimana mengajarkan Matematika yang menyenangkan buat anak, ada bagaimana tahapan menulis yang benar, dll. Yang jelas, materi Pamela dan Laura tentang dunia anak membuat saya semakin mencintai anak-anak. Betapa indahnya dunia mereka, kalau saja kita tahu ilmunya. Yang paling penting adalah, anak-anak akan bahagia jika kita bahagia. Satu lagi penelitian tentang otak, ketika kita tertawa otak akan mengeluarkan reaksi kimia positif yang dalam hitungan detik akan membuat kita menjadi lebih baik. Dan selaras dengan teori The Law of Attraction, di dalam otak ada neuron seperti cermin yang akan merefleksikan emosi seseorang. Bila dia berada pada kondisi sedih dan kecewa, maka otomatis seluruh kondisi tubuhnya mencerminkan dia seseorang yang sedih dan kecewa, dan akan memancar pula hal-hal negatif dari sekitarnya. Begitu pula sebaliknya. Coba buktikan, ketika kita sedang dalam kondisi bahagia, cobalah menegur anak, maka dia akan tersenyum dan senang berinteraksi dengan kita.
Karena itu, buat para ibu yang ingin membuat anaknya nyaman dan selalu bahagia, maka berbahagia dan tersenyumlah, agar mereka juga dapat belajar dalam tahapan usia mereka masing-masing.
Jika anak banyak di cela, ia akan tebiasa menyalahkan
Jika anak biasa dimusuhi, ia akan terbiasa menentang
Jika anak mengenyam rasa aman, ia akan terbiasa mengandalkan diri dan percaya orang sekitarnya
Jika Anak dikerumuni keramahan, ia akan terbiasa berpendirian :
”Sungguh Indah dunia ini!”
Bagaimanakah anak Anda?
(Dorothy Low Nolte, Children learn what they live with)
NB : Silahkan memperoleh buku Panduan Pendidikan dengan Sentra, yang memuat metode belajar berikut dengan tahapan perkembangan dan tahapan bermain anak usia dini.
Buku terdiri dari 1 paket (7 buku/7 sentra).
Untuk pemesanan hubungi :
CP : Mardiana
HP : 0816 11 80 133 / 021-23 777 165
Email : diana20377@gmail. com
www.ana165@multiply .com
POLITIK BERPARAS PEREMPUAN, BAGAIMANA RUPA POLITIK KITA?
SADAR (Simpul Untuk Keadilan dan Demokrasi)
Edisi: 246 Tahun V - 2009
Sumber: www.prakarsa-rakyat.org
Dikutip pada 1 November 2009
POLITIK BERPARAS PEREMPUAN, BAGAIMANA RUPA POLITIK KITA?
Oleh Khalisah Khalid *
Judul di atas terinspirasi dari sebuah buku yang berjudul politik berparas perempuan yang ditulis oleh Joni Lovenduski. Sebuah buku kritis yang memacu adrenalin perempuan yang ingin melihat lebih jauh bagaimana wajah politik kita, dan menilai sejauh mana keberhasilan perempuan yang telah masuk ke gelanggang politik mampu mempengaruhi kultur politik dan bahkan mempengaruhi produk kebijakan yang dihasilkan.
Meskipun banyak mengambil pelajaran dari pertarungan politik perempuan di Inggris dan Perancis, tidak ada salahnya jika kita mencoba menariknya dalam situasi politik nasional yang sudah ”panas” menjelang pemilu 2009.
Langkah afirmatif yang diterjemahkan ke dalam sebuah ketentuan kuota minimum 30% dalam Undang-Undang Pemilu 2009, akhirnya terjegal dalam proses politik berikutnya di Mahkamah Konstitusi yang bagi saya sebagai sebuah ”tragedi” yang semakin melengkapi begitu liberalnya sistem politik ini mereformasi dirinya dengan memberikan ruang bagi kehadiran perempuan untuk secara maksimal masuk dalam gelanggang politik praktis.
Belum banyak memang orang yang mengerti makna langkah afirmatif bagi perempuan di dalam politik, termasuk kuota. Cerminan ini bisa dilihat ketika politisi perempuan yang berada di nomor urut ”sepatu” gembira dengan hasil keputusan Mahkamah Konstitusi melalui suara terbanyak.
Konyolnya dalam perdebatan yang muncul di media massa selalu menghadapkan politisi laki-laki yang mendukung kuota 30 persen bagi perempuan dengan politisi perempuan yang tidak mendukung kuota 30 persen. Padahal begitu banyak aktivis perempuan yang masuk ke gelanggang politik praktis ini berjuang mati-matian untuk satu pasal dalam undang-undang pemilu yang mengatur soal kuota bagi perempuan.
Kondisi yang muncul inilah yang kemudian membangun sebuah pandangan bahwa kuota 30 persen itu sendiri tidak didukung oleh perempuan, padahal ruang untuk memaknai kuota 30 persen itulah yang harus semakin dikuatkan secara substantif, sehingga tidak terjadi kekhawatiran Soe Tjen Marching, seorang feminis dan staf pengajar pada Universitas London dalam tulisannya di salah satu media massa menyatakan bahwa kuota hanya menjadi retorika murahan atau saya menyebutnya kuota 30 persen hanya sebagai permen politik bagi perempuan.
Seorang kawan kontributor majalah Tapol yang sudah lebih dari 10 tahun bermukim di London juga sempat mewawancarai sejumlah aktivis perempuan Indonesia, untuk mengetahui bagaimana pandangan kami sebagai aktivis perempuan terkait dengan kuota 30 persen keterwakilan perempuan di parlemen.
Sebagai salah seorang yang diwawancarai, saya menyatakan bahwa Sarekat Hijau Indonesia yang merupakan gerakan politik hijau di Indonesia mendukung langkah affirmative action dengan kuota 30 persen perempuan duduk di parlemen, namun tentu saja langkah afirmatif berupa kuota ini tidak berhenti sampai di sini, karena berbagai persoalan yang dialami oleh perempuan bukan hanya disebabkan oleh persoalan struktural berupa ketimpangan pada relasi kelas yang mempengaruhi akses dan kontrol dalam pengambilan keputusan di dalam pengelolaan lingkungan hidup dan sumber daya alam.
Faktanya dalam pemilu 2009 yang telah berlalu, agenda perempuan dalam pengelolaan kekayaan alam dan isu lingkungan hidup, sepi disuarakan oleh partai-partai politik. Padahal krisis lingkungan dan praktek eksploitasi kekayaan alam telah menghancurkan sumber-sumber kehidupan perempuan.
Di sinilah tantangan berat bagi perempuan yang telah masuk pada ruang-ruang politik praktis di parlemen, agar kehadirannya bukan hanya seperti pemanis parlemen, apalagi sebagai hadiah politik. Kita tunggu kiprahnya melalui kebijakan politik yang dihasilkan, sejauh mana berpihak pada kepentingan dan kebutuhan rakyat, khususnya perempuan.
* Penulis adalah Dewan Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) 2009-2012; Biro Politik dan Ekonomi Sarekat Hijau Indonesia. Penulis juga anggota Forum Belajar Bersama Prakarsa Rakyat dari Simpul Jabodetabek.
** Siapa saja dipersilahkan mengutip, menggandakan, menyebarluaskan sebagian atau seluruh materi yang termuat dalam portal ini selama untuk kajian dan mendukung gerakan rakyat. Untuk keperluan komersial pengguna harus mendapatkan ijin tertulis dari pengelola portal Prakarsa Rakyat. Setiap pengutipan, penggandaan dan penyebarluasan sebagian atau seluruh materi harus mencantumkan sumber (portal Prakarsa Rakyat atau www.prakarsa-rakyat.org).
Edisi: 246 Tahun V - 2009
Sumber: www.prakarsa-rakyat.org
Dikutip pada 1 November 2009
POLITIK BERPARAS PEREMPUAN, BAGAIMANA RUPA POLITIK KITA?
Oleh Khalisah Khalid *
Judul di atas terinspirasi dari sebuah buku yang berjudul politik berparas perempuan yang ditulis oleh Joni Lovenduski. Sebuah buku kritis yang memacu adrenalin perempuan yang ingin melihat lebih jauh bagaimana wajah politik kita, dan menilai sejauh mana keberhasilan perempuan yang telah masuk ke gelanggang politik mampu mempengaruhi kultur politik dan bahkan mempengaruhi produk kebijakan yang dihasilkan.
Meskipun banyak mengambil pelajaran dari pertarungan politik perempuan di Inggris dan Perancis, tidak ada salahnya jika kita mencoba menariknya dalam situasi politik nasional yang sudah ”panas” menjelang pemilu 2009.
Langkah afirmatif yang diterjemahkan ke dalam sebuah ketentuan kuota minimum 30% dalam Undang-Undang Pemilu 2009, akhirnya terjegal dalam proses politik berikutnya di Mahkamah Konstitusi yang bagi saya sebagai sebuah ”tragedi” yang semakin melengkapi begitu liberalnya sistem politik ini mereformasi dirinya dengan memberikan ruang bagi kehadiran perempuan untuk secara maksimal masuk dalam gelanggang politik praktis.
Belum banyak memang orang yang mengerti makna langkah afirmatif bagi perempuan di dalam politik, termasuk kuota. Cerminan ini bisa dilihat ketika politisi perempuan yang berada di nomor urut ”sepatu” gembira dengan hasil keputusan Mahkamah Konstitusi melalui suara terbanyak.
Konyolnya dalam perdebatan yang muncul di media massa selalu menghadapkan politisi laki-laki yang mendukung kuota 30 persen bagi perempuan dengan politisi perempuan yang tidak mendukung kuota 30 persen. Padahal begitu banyak aktivis perempuan yang masuk ke gelanggang politik praktis ini berjuang mati-matian untuk satu pasal dalam undang-undang pemilu yang mengatur soal kuota bagi perempuan.
Kondisi yang muncul inilah yang kemudian membangun sebuah pandangan bahwa kuota 30 persen itu sendiri tidak didukung oleh perempuan, padahal ruang untuk memaknai kuota 30 persen itulah yang harus semakin dikuatkan secara substantif, sehingga tidak terjadi kekhawatiran Soe Tjen Marching, seorang feminis dan staf pengajar pada Universitas London dalam tulisannya di salah satu media massa menyatakan bahwa kuota hanya menjadi retorika murahan atau saya menyebutnya kuota 30 persen hanya sebagai permen politik bagi perempuan.
Seorang kawan kontributor majalah Tapol yang sudah lebih dari 10 tahun bermukim di London juga sempat mewawancarai sejumlah aktivis perempuan Indonesia, untuk mengetahui bagaimana pandangan kami sebagai aktivis perempuan terkait dengan kuota 30 persen keterwakilan perempuan di parlemen.
Sebagai salah seorang yang diwawancarai, saya menyatakan bahwa Sarekat Hijau Indonesia yang merupakan gerakan politik hijau di Indonesia mendukung langkah affirmative action dengan kuota 30 persen perempuan duduk di parlemen, namun tentu saja langkah afirmatif berupa kuota ini tidak berhenti sampai di sini, karena berbagai persoalan yang dialami oleh perempuan bukan hanya disebabkan oleh persoalan struktural berupa ketimpangan pada relasi kelas yang mempengaruhi akses dan kontrol dalam pengambilan keputusan di dalam pengelolaan lingkungan hidup dan sumber daya alam.
Faktanya dalam pemilu 2009 yang telah berlalu, agenda perempuan dalam pengelolaan kekayaan alam dan isu lingkungan hidup, sepi disuarakan oleh partai-partai politik. Padahal krisis lingkungan dan praktek eksploitasi kekayaan alam telah menghancurkan sumber-sumber kehidupan perempuan.
Di sinilah tantangan berat bagi perempuan yang telah masuk pada ruang-ruang politik praktis di parlemen, agar kehadirannya bukan hanya seperti pemanis parlemen, apalagi sebagai hadiah politik. Kita tunggu kiprahnya melalui kebijakan politik yang dihasilkan, sejauh mana berpihak pada kepentingan dan kebutuhan rakyat, khususnya perempuan.
* Penulis adalah Dewan Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) 2009-2012; Biro Politik dan Ekonomi Sarekat Hijau Indonesia. Penulis juga anggota Forum Belajar Bersama Prakarsa Rakyat dari Simpul Jabodetabek.
** Siapa saja dipersilahkan mengutip, menggandakan, menyebarluaskan sebagian atau seluruh materi yang termuat dalam portal ini selama untuk kajian dan mendukung gerakan rakyat. Untuk keperluan komersial pengguna harus mendapatkan ijin tertulis dari pengelola portal Prakarsa Rakyat. Setiap pengutipan, penggandaan dan penyebarluasan sebagian atau seluruh materi harus mencantumkan sumber (portal Prakarsa Rakyat atau www.prakarsa-rakyat.org).
Greenpeace: Para Pemimpin Uni-Eropa Harus Membantu SBY Melindungi Hutan Indonesia
Greenpeace: Para pemimpin Uni-Eropa harus membantu SBY melindungi hutan Indonesia
Jakarta, 29 Oktober 2009- Para aktivis Greenpeace membentangkan spanduk berukuran 20x50 meter dengan gambar wajah Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Perancis Nicholas Sarkozy di lahan gambut yang baru saja diancurkan di Sumatra. Kegiatan ini dilakukan menjelang konferensi pemimpin Uni-Eropa yang dimulai hari ini di Brussels,
Belgia.
Aksi kemarin di Indonesia menandai peluncuran rangkaian kegiatan di Kamp Pembela Iklim Greenpeace di Riau yang diharapkan memancing perhatian para pemimpin dunia akan pentingnya melindungi hutan sebagai langkah penting mengurangi emisi gas rumah kaca untuk menghindari perubahan iklim.
“Uni Eropa mengakumulasi utang karbon historisnya dengan memicu deforestasi dan penghancuran hutan di luar negara mereka. Saatnya kini para pemimpin Uni Eropa bertanggung jawab untuk berkomitmen memberi bantuan dana publik dalam jumlah yang sepadan untuk mencegah hilangnya hutan tropis yang tersisa.” tegas Bustar Maitar, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara.
Indonesia memiliki laju deforestasi tertinggi diantara negara-negara yang memiliki hutan di dunia dan menjadi contoh nyata perlunya rencana matang yang didukung dengan dana bantuan internasional untuk melindungi hutan tropis.
Dimotori permintaan pasar dunia terhadap produk kertas dan minyak kelapa sawit, sejak 1950 lebih dari 74 juta hektar hutan Indonesia telah sepenuhnya hancur, ditambah area sekitar yang juga mengalami kerusakan berat.
Kehancuran lahan gambut di Indonesia saja bertanggungjawab atas 4% emisi global gas rumah kaca hasil tindakan manusia, menjadikan Indonesia negara ketiga terbesar penghasil gas rumah kaca setelah Amerika Serikat dan Cina.
Tingginya emisi tersebut disebabkan oleh dua alasan – pesatnya laju deforestasi dan degradasi serta pembakaran lahan gambut. Lahan gambut di Asia Tenggara diperkirakan menyimpan 42 milyar ton karbon dan sekitar 80% atau 35 milyar ton dari jumlah tersebut tersimpan di Indonesia. Lahan gambut di Indonesia mewakili hanya kurang dari 0,1% dari luas tanah di bumi namun bertanggung jawab akan 1,8 milyar ton emisi per tahun.
Pemerintah Indonesia baru-baru ini mengidentifikasi industri kayu, minyak kelapa sawit, pertanian, sertapulp (bubur kertas) dan kertas sebagai penyebab kekeringan lahan gambut, deforestasi dan emisi yang dihasilkan Indonesia. Dalam laporan disebutkan bahwa bila tidak ada tindakan tegas yang dilakukan, diperkirakan kadar pelepasan emisi tersebut akan terus meningkat.
Pada pertemuan negara-negara G20 di Pittsburgh, Amerika Serikat, Presiden Yudhoyono berkomitmen mengurangi emisi karbon Indonesia sebesar 26% pada tahun 2020 – meningkat ke angka 41% dengan dukungan internasional. Dengan melakukan ini, Presiden menunjukkan kemauan keras dan kepemimpinan yang kuat dari Indonesia. Semangat ini sangat dibutuhkan untuk membantu dunia menghindari kekacauan iklim.
“Sebagai Presiden dari negara dengan hutan tropis terbesar yang tersisa, kata-kata Presiden Yudhoyono adalah harapan untuk jutaan orang yang sudah menderita akan dampak perubahan iklim. Agar beliau dapat mengubah komitmennya menjadi tindakan, beliau membutuhkan bantuan finansial dari negara-negara maju untuk mewujudkan komitmennya. Para pemimpin Uni-Eropa harus menunjukkan sikap kepemimpinan seperti Presiden Yudhoyono dan berikan dukungan nyata terhadap sesuatu yang mereka percayai, dengan segera memberikan dana” jelas Shailendra Yashwant, Direktur Kampanye Greenpeace Asia Tenggara.
Bagi Greenpeace, dukungan Uni-Eropa harus ditunjukkan setidaknya dengan komitmen yang jelas dari para pemimin Uni Eropa untuk:
1. Mendukung pengembangan pendanaan global untuk iklim dibawah Perjanjian Iklim UNFCCC, dijalankan oleh mekanisme finansial baru yang kuat dan mengikat secara hukum yang akan menggerakkan setidaknya 30 milyar Euro dari pendanaan publik per tahun untuk periode 2013-2020, ditujukan untuk pembiayaan pengembangan dan implementasi rencana nol deforestasi di negara-negara tropis.
1. Meniadakan skema kredit pertukaran-emisi pada hutan (forest offset) dari pasar karbon internasional – REDD harus menjadi tambahan untuk pengurangan emisi dalam negeri dari negara-negara Annex 1 dan tidak boleh menciptakan kerugian untuk perubahan yang diperlukan menuju ekonomi masa depan yang rendah karbon
1. Mempromosikan tujuan membawa laju deforestasi hutan tropis menuju angka nol sebelum 2020 – Upaya untuk mengurangi namun tidak mengakhiri deforestasi tropis tidak hanya akan memperpanjang masalah, namun juga tidak akan menghadirkan hasil yang diperlukan untuk menghindari bahaya perubahan iklim, kepunahan spesies dan kehancuran ekosistem.
1. Mengutamakan perlindungan hutan alam seutuhnya (REDD), dan meniadakan subsidi untuk kegiatan hutan untuk industri (REDD+) yang akan mengancam keanekaragaman hayati dan kesatuan ekologi, serta seringkali menjadi jalan untuk tindak deforestasi. Sangatlah penting untuk memastikan pendanaan publik untuk REDD tidak digunakan untuk subsidi perkebunan tanaman industri (“HTI”), penebangan kayu di hutan tropis dan konversi hutan alam menjadi perkebunan.
2. Menyatakan secara jelas bahwa masa depan mekanisme REDD dikeluarkan dan dirancang untuk berkontribusi terhadap tujuan Perjanjian PBB terhadap Keanekaragaman Hayati. Dampak terhadap keanekaragaman hayati harus secara eksplisit dipertimbangkan dalam segala tata cara, peraturan dan kegiatan REDD.
Greenpeace adalah organisasi kampanye global independen yang beraksi untuk mengubah sikap dan perilaku, untuk melindungi dan melestarikan lingkungan, serta mempromosikan perdamaian.
Kontak:
Bustar
Maitar, Jurukampanye Hutan, Greenpeace Asia Tenggara, tel: +6281344666135
Martin Baker, Direktur Komunikasi, Greenpeace Asia Tenggara, tel +6281315829513
Untuk
infromasi lebih lanjut kunjungi: http://www.greenpeace.or.id/
Jakarta, 29 Oktober 2009- Para aktivis Greenpeace membentangkan spanduk berukuran 20x50 meter dengan gambar wajah Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Perancis Nicholas Sarkozy di lahan gambut yang baru saja diancurkan di Sumatra. Kegiatan ini dilakukan menjelang konferensi pemimpin Uni-Eropa yang dimulai hari ini di Brussels,
Belgia.
Aksi kemarin di Indonesia menandai peluncuran rangkaian kegiatan di Kamp Pembela Iklim Greenpeace di Riau yang diharapkan memancing perhatian para pemimpin dunia akan pentingnya melindungi hutan sebagai langkah penting mengurangi emisi gas rumah kaca untuk menghindari perubahan iklim.
“Uni Eropa mengakumulasi utang karbon historisnya dengan memicu deforestasi dan penghancuran hutan di luar negara mereka. Saatnya kini para pemimpin Uni Eropa bertanggung jawab untuk berkomitmen memberi bantuan dana publik dalam jumlah yang sepadan untuk mencegah hilangnya hutan tropis yang tersisa.” tegas Bustar Maitar, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara.
Indonesia memiliki laju deforestasi tertinggi diantara negara-negara yang memiliki hutan di dunia dan menjadi contoh nyata perlunya rencana matang yang didukung dengan dana bantuan internasional untuk melindungi hutan tropis.
Dimotori permintaan pasar dunia terhadap produk kertas dan minyak kelapa sawit, sejak 1950 lebih dari 74 juta hektar hutan Indonesia telah sepenuhnya hancur, ditambah area sekitar yang juga mengalami kerusakan berat.
Kehancuran lahan gambut di Indonesia saja bertanggungjawab atas 4% emisi global gas rumah kaca hasil tindakan manusia, menjadikan Indonesia negara ketiga terbesar penghasil gas rumah kaca setelah Amerika Serikat dan Cina.
Tingginya emisi tersebut disebabkan oleh dua alasan – pesatnya laju deforestasi dan degradasi serta pembakaran lahan gambut. Lahan gambut di Asia Tenggara diperkirakan menyimpan 42 milyar ton karbon dan sekitar 80% atau 35 milyar ton dari jumlah tersebut tersimpan di Indonesia. Lahan gambut di Indonesia mewakili hanya kurang dari 0,1% dari luas tanah di bumi namun bertanggung jawab akan 1,8 milyar ton emisi per tahun.
Pemerintah Indonesia baru-baru ini mengidentifikasi industri kayu, minyak kelapa sawit, pertanian, sertapulp (bubur kertas) dan kertas sebagai penyebab kekeringan lahan gambut, deforestasi dan emisi yang dihasilkan Indonesia. Dalam laporan disebutkan bahwa bila tidak ada tindakan tegas yang dilakukan, diperkirakan kadar pelepasan emisi tersebut akan terus meningkat.
Pada pertemuan negara-negara G20 di Pittsburgh, Amerika Serikat, Presiden Yudhoyono berkomitmen mengurangi emisi karbon Indonesia sebesar 26% pada tahun 2020 – meningkat ke angka 41% dengan dukungan internasional. Dengan melakukan ini, Presiden menunjukkan kemauan keras dan kepemimpinan yang kuat dari Indonesia. Semangat ini sangat dibutuhkan untuk membantu dunia menghindari kekacauan iklim.
“Sebagai Presiden dari negara dengan hutan tropis terbesar yang tersisa, kata-kata Presiden Yudhoyono adalah harapan untuk jutaan orang yang sudah menderita akan dampak perubahan iklim. Agar beliau dapat mengubah komitmennya menjadi tindakan, beliau membutuhkan bantuan finansial dari negara-negara maju untuk mewujudkan komitmennya. Para pemimpin Uni-Eropa harus menunjukkan sikap kepemimpinan seperti Presiden Yudhoyono dan berikan dukungan nyata terhadap sesuatu yang mereka percayai, dengan segera memberikan dana” jelas Shailendra Yashwant, Direktur Kampanye Greenpeace Asia Tenggara.
Bagi Greenpeace, dukungan Uni-Eropa harus ditunjukkan setidaknya dengan komitmen yang jelas dari para pemimin Uni Eropa untuk:
1. Mendukung pengembangan pendanaan global untuk iklim dibawah Perjanjian Iklim UNFCCC, dijalankan oleh mekanisme finansial baru yang kuat dan mengikat secara hukum yang akan menggerakkan setidaknya 30 milyar Euro dari pendanaan publik per tahun untuk periode 2013-2020, ditujukan untuk pembiayaan pengembangan dan implementasi rencana nol deforestasi di negara-negara tropis.
1. Meniadakan skema kredit pertukaran-emisi pada hutan (forest offset) dari pasar karbon internasional – REDD harus menjadi tambahan untuk pengurangan emisi dalam negeri dari negara-negara Annex 1 dan tidak boleh menciptakan kerugian untuk perubahan yang diperlukan menuju ekonomi masa depan yang rendah karbon
1. Mempromosikan tujuan membawa laju deforestasi hutan tropis menuju angka nol sebelum 2020 – Upaya untuk mengurangi namun tidak mengakhiri deforestasi tropis tidak hanya akan memperpanjang masalah, namun juga tidak akan menghadirkan hasil yang diperlukan untuk menghindari bahaya perubahan iklim, kepunahan spesies dan kehancuran ekosistem.
1. Mengutamakan perlindungan hutan alam seutuhnya (REDD), dan meniadakan subsidi untuk kegiatan hutan untuk industri (REDD+) yang akan mengancam keanekaragaman hayati dan kesatuan ekologi, serta seringkali menjadi jalan untuk tindak deforestasi. Sangatlah penting untuk memastikan pendanaan publik untuk REDD tidak digunakan untuk subsidi perkebunan tanaman industri (“HTI”), penebangan kayu di hutan tropis dan konversi hutan alam menjadi perkebunan.
2. Menyatakan secara jelas bahwa masa depan mekanisme REDD dikeluarkan dan dirancang untuk berkontribusi terhadap tujuan Perjanjian PBB terhadap Keanekaragaman Hayati. Dampak terhadap keanekaragaman hayati harus secara eksplisit dipertimbangkan dalam segala tata cara, peraturan dan kegiatan REDD.
Greenpeace adalah organisasi kampanye global independen yang beraksi untuk mengubah sikap dan perilaku, untuk melindungi dan melestarikan lingkungan, serta mempromosikan perdamaian.
Kontak:
Bustar
Maitar, Jurukampanye Hutan, Greenpeace Asia Tenggara, tel: +6281344666135
Martin Baker, Direktur Komunikasi, Greenpeace Asia Tenggara, tel +6281315829513
Untuk
infromasi lebih lanjut kunjungi: http://www.greenpeace.or.id/
Sandrina Malakiano, Dengan Islam Jadi Lebih Sabar dan Ikhlas
Setelah merasa mantap dengan ajaran Islam yang dipelajari selama lebih kurang dua tahun pengembaraannya, maka pada 2000, ia pun membulatkan tekad untuk memeluk agama Islam. Ia bersyahadat di Masjid Al-Azhar, Jakarta.
Langganan:
Postingan (Atom)
