Jumat, 07 November 2008

Jangan Ada Kampanye Hitam



Iskandar Tompo:
Jangan Ada Kampanye Hitam

Meskipun bersaing untuk memperebutkan empat kursi dari Sulawesi Selatan, para calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) diharapkan menjalin kerja sama dengan cara tidak saling menjelek-jelekkan satu sama lain.
Apapun hasilnya harus dihormati semua phak. Calon yang tidak terpilih diharapkan kebesaran hatinya menerima hasil pemilu, sedangkan yang terpilih menerima hasil pemilu sebagai suatu amanah dari umat dan masyarakat.
”Marilah kita saling menghormati dan tidak saling menjelek-jelekkan. Jangan ada kampanye hitam,” tandas salah seorang calon anggota DPD, Andi Iskandar Tompo, kepada Demos di Makassar, belum lama ini.
Dia mengatakan, para calon anggota DPD pada dasarnya punya tujuan yang sama yakni membawa aspirasi masyarakat dan pemerintah Sulawesi Selatan, sehingga tidaklah pantas jika ada calon anggota DPD yang berupaya atau sengaja menciptakan suasana persaingan.
”Saya berharap tidak tercipta suasana persaingan, melainkan suasana yang sejuk,” ujar Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulsel itu.
Tentang dukungan, mantan anggota DPRD Sulsel dan DPRD Kota Makassar itu mengatakan dirinya mendapat dukungan penuh dari kalangan Muhammadiyah, yang dibuktikan dengan adanya rekomendasi dari PWM Sulsel.
Dalam kunjungannya ke berbagai daerah di Sulsel, Andi Iskandar Tompo mengaku mendapatkan dukungan moril, terutama dari kalangan pengurus dan simpatisan Muhammadiyah.
”Selain adanya rekomendasi dari PWM Sulsel, saya juga ingin melanjutkan perjuangan Muhammadiyah setelah saya melakukannya di DPRD Sulsel dan DPRD Kota Makassar. Bagi saya, menjadi anggota DPD adalah sebuah perjuangan ideologi,” katanya.
Perjuangan Muhammadiyah dimaksud yakni terciptanya masyarakat yang adil dan makmur yang diridahi oleh Allah SWT.
Di Muhammadiyah Sulsel, Andi Iskandar Tompo kini menjabat Wakil Ketua. Pria kelahiran Makassar, 8 Januari 1949 itu pernah menjabat Ketua Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Wilayah Sulawesi Selatan dan Tenggara, Ketua Pemuda Muhammadiyah Sulawesi Selatan. (asnawin) - dimuat di tabloid Demos Makassar, edisi Minggu III-IV September 2008

Kalla Terbitkan Buku Tentang Ibunya

Harian Tribun Timur, Jumat, 07-11-2008

Kalla Terbitkan Buku Tentang Ibunya

Makassar, Tribun - Wakil Presiden Jusuf Kalla akan meluncurkan buku yang bercerita tentang almarhumah ibunya, Athirah Kalla. Buku berjudul Hj Athirah Kalla Melangkah dengan Payung itu dibuat oleh tim dari Pemuda Muhammadiyah Sulsel.

Saat sesi wawancara dengan tim penyusun buku di Istana Wapres, Jakarta, Rabu (5/11), Kalla tampak terharu menceritakan kisah perjalanan hidup ibunya. Beberapa kali ia terlihat terdiam dan menatap plafon sebelum menjawab pertanyaan dari tim penyusun buku.

Buku itu disusun oleh Basti Tetteng, Asnawin. Saat sesi wawancara, tim penyusun buku didampingi oleh Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah Pusat Izzul Muslimin, Sekum Gunawan, serta Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Sulsel Abdul Rachmat Noer.

Rencananya, buku itu akan dibagikan pada acara Muktamar Nasyiatul Aisyiah yang akan berlangsung di Makassar 19 November mendatang.

Kalla memulai ceritanya dengan memujinya. "Ibu saya itu tidak pernah mengeluh," ungkap Kalla kepada tim penyusun buku.

Dalam kisah Kalla, Athirah Kalla membesarkan 10 anak-anaknya dengan sabar di rumahnya yang luas di Jl Andalas No 2 Makassar. Di rumah yang berdekatan dengan Masjid Raya, Makassar itu, juga banyak keluarganya yang menetap untuk disekolahkan.

Rumahnya pun selalu menjadi tempat rapat pengurus Nahdlatul Ulama (NU) Sulsel, pengurus Aisyiyah Sulsel, pengurus Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), dan pengurus Senat Fisipol Unhas.

"Jadi rumah saya itu ganti-ganti orang rapat di sana. Hari ini NU, besok Aisyiyah. Kalau HMI tiap hari. Tapi ibu tak pernah mengeluh. Tiap malam ratusan orang yang datang. Ibu saya masak lalu pergi tidur di kamarnya. Teman-teman kalau mau makan langsung saja ke dapur ambil sendiri. Tapi ibu tidak merasa terganggu," papar Kalla.

Aktivis HMI Pusat, seperti Nurcholis Madjid (almarhum) dan Fahmi Idris (sekarang Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi), juga selalu menginap di rumah Kalla setiap kali datang ke Makassar. Mereka semua mengenal Athirah karena selalu mendapat pelayanan yang baik dan ikhlas.

Muktamar Nasyiah

Ketua PW Pemuda Muhammadiyah Sulsel, Rachmat Noer mengatakan, buku biografi Ibu Athirah Kalla rencananya akan dibagikan pada acara Muktamar Nasyiatul Aisyiyah di Makassar, 19-21 November ini.

Ketua Nasyiatul Aisyiyah Sulsel, St Chaerani Djaya, yang dihubungi terpisah mengatakan, muktamar akan dihadiri sekitar 2.000 peserta dan penggembira.

"Peserta muktamar kurang lebih 800 orang dari seluruh Indonesia, tetapi banyak penggembira dan juga banyak agenda kegiatan lainnya," jelasnya.

Muktamar akan diawali dengan Lomba Jalan Santai (16 November), lalu seminar (17-18 November), tanwir (18 November), serta pembukaan muktamar (19 November di Celebes Convention Centre).

Pemuda Muhammadiyah Sulsel Temui Kalla


Buku biografi Hj Athirah dibuat oleh 6 tim penulis yang dibentuk oleh Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Sulsel, masing-masing Basti Teteng, Asnawin, Muh Yahya, Ilham Hamid, Muh Ihsan dan A Baetal Mukaddas. Buku biografi tersebut dilaunching pertama kali di acara Sidang Tanwir Pemuda Muhammadiyah bulan Agustus lalu di Makassar. (int)

Senin, 08 September 2008

Teman-teman Seangkatanku di Pedoman Rakyat

Teman-teman Seangkatanku di Pedoman Rakyat

Tahun 1992, saya mendaftar dan diterima menjadi wartawan harian Pedoman Rakyat. Ada seratusan yang mendaftar, tetapi banyak yang tidak lolos berkas. Kemudian yang lulus tes tertulis dan wawancara sebanyak 20 orang. Mereka kemudian mengikuti lanjutan yakni tes peliputan di lapangan. Setelah diseleksi ulang, akhirnya diterima tujuh calon wartawan.
Ke-7 calon wartawan tersebut, yakni Asnawin, Rusdi Embas, Indarto, Mustam Arif, Yahya Mustafa, Elvianus Kawengian, dan Ely Sambominanga.
Setelah beberapa tahun menjadi reporter, kami berturut-turut menjadi redaktur, lalu ada yang naik menjadi Redaktur Pelaksana dan ada yang menjadi Wapemred.
Saya sendiri sempat menjadi Rekdaktur Pendidikan dan Kesehatan, Redaktur Foto, Redaktur Ekonomi, Redaktur Politik, Redaktur Hiburan, Redaktur Kota, dan Redaktur Humaniora.
Belakangan, beberapa di antara kami memilih keluar. Ely Sambominanga menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Mamasa, dan Rusdi Embas pindah ke harian Tribun Timur.
Yahya Mustafa tetap di harian Pedoman Rakyat tetapi melanjutkan kuliah ke jenjang magister (S2) dan kemudian merangkap menjadi dosen di beberapa PTS. Pria asal Sinjai itu juga aktif membuat buku.
Setelah harian Pedoman Rakyat tidak lagi terbit sejak 3 September 2007, kami pun berpencar. Mustam Arif memilih aktif di LSM lingkungan hidup dan juga membina sebuah media cetak. Elvianus Kawengian di Koran Makassar. Yahya Mustafa tetap mengajar bahkan menjadi Pembantu Dekan I Fisip Universitas Sawerigading Makassar. Indarto Pemimpin Redaksi majalah Profiles. Rusdi Embas di harian Tribun Timur.
Saya sendiri mengajar sebagai dosen luar biasa di Unismuh Makassar dan UIN Alauddin, sambil menyalurkan karya jurnalistik di Tabloid Demos dan beberapa blog di internet. Saya juga aktif membawakan materi pada berbagai pelatihan.
Tentang Ely Sambominanga, saya benar-benar kehilangan kontak dan jejak. Mungkin masih tetap menjadi anggota KPU Mamasa. Saya selalu berdoa, agar teman-teman semua hidupnya lebih baik dibanding sebelumnya. (asnawin)

Rabu, 03 September 2008

Harian Pedoman Rakyat Setahun yang Lalu



Harian Pedoman Rakyat Setahun yang Lalu
(Mengenang Peristiwa 3 Oktober 2007)

Oleh : Asnawin


Malam sudah menunjukkan sekitar pukul 21.00 Wita. Sebagian wartawan sedang sibuk-sibuknya menulis berita, beberapa redaktur sibuk mengedit berita dan redaktur lainnya sibuk membaca print out halaman yang menjadi tanggungjawabnya.
Tiba-tiba Pemimpin Perusahaan Jan A. Talakua, dan Pemimpin Umum Ventje Manuhua, muncul di ruangan redaksi dan mengabarkan bahwa percetakan (Percetakan Sulawesi) menuntut pembayaran biaya cetak.
Teman-teman di redaksi pun menjadi bimbang, apakah koran jadi dicetak besok atau tidak. Melihat kebimbangan itu, Ventje dan Jan Talakua, mencoba meyakinkan bahwa bagian redaksi tidak perlu ragu dan tetap menyiapkan berita untuk mengisi seluruh halaman.
Teman-teman di redaksi pun menyelesaikan tugasnya dan pulang dengan harap-harap cemas. Kami semua berdoa semoga harian Pedoman Rakyat dapat tetap terbit.
Di jajaran redaktur ada Arief Djasar, Mahyudin, Petrus Sofyan Malia, Syafruddin, Elvianus Kawengian, Yusuf Akib, Indarto, Rusli Kadir, dan saya sendiri selaku Redaktur Humaniora.
Keesokan harinya, kami saling menghubungi via sms atau saling menelepon untuk mengetahui jadi tidaknya harian kami terbit. Setelah dikonfirmasi kesana kemari, akhirnya kami mengetahui bahwa harian Pedoman Rakyat tidak terbit.
Kami pun berkumpul di kantor dan membicarakan bagaimana nasib koran kami. Jan Talakua atas perintah Ventje Manuhua kemudian mendatangi kantor harian Fajar untuk memasang pengumuman bahwa harian Pedoman Rakyat hanya sementara tidak terbit.
Teman-teman berharap pengumuman itu murni dan bukan akal-akalan dari Pemimpin Umum bersama 'kroni-kroninya'. Timbulnya kecurigaan seperti itu memang beralasan, karena Ventje S. Manuhua sudah beberapa kali 'berbohong' kepada karyawan, misalnya soal gaji yang akhirnya terlambat dibayar, serta soal kas perusahaan yang ternyata kebocorannya luar biasa.
Ternyata koran kami tetap tidak terbit hingga beberapa hari kemudian. Kami pun selalu berdiskusi untuk mencari solusi, antara lain dengan berupaya mencari investor dan meminta Ventje Manuhua mengundurkan diri.
Rupanya Ventje Manuhua tetap bertahan tidak mau mundur dan memilih mati bersama harian Pedoman Rakyat. Ibarat pepatah, lebih baik mati berkalang tanah daripada mengundurkan diri dari jabatan Pemimpin Umum Harian Pedoman Rakyat.
Harian Pedoman Rakyat yang terbit perdana pada 1 Maret 1947, pernah mati ketika penjajah Belanda ingin berkuasa kembali di Indonesia, padahal Indonesia sudah mengumumkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, tetapi berkat perjuangan dan kerja keras LE Manuhua dan beberapa pemegang saham, harian ini terbit kembali dan akhirnya menjadi koran terbesar di kawasan timur Indonesia.
Seiring perjalanan waktu dan berbagai perubahan zaman, harian ini menjadi tidak dominan lagi di Makassar dan sekitarnya.
Fajar yang semula terbit mingguan, kemudian terbit harian setelah 'digandeng' oleh Jawa Pos Grup. Tak lama kemudian muncul lagi harian Tribun Timur yang merupakan bagian dari bendera Kompas Gramedia.
Sebenarnya bukan karena melejitnya Fajar dan munculnya Tribun Timur yang membuat harian Pedoman Rakyat mati, melainkan karena LE Manuhua tak mampu menerapkan manajemen modern dan takut 'bergandengan tangan' dengan Kompas yang sebenarnya sangat ingin 'menggandeng' harian ini.
Tidak ada penjelasan resmi, tetapi beberapa teman curiga LE Manuhua takut anak-anak dan keluarganya yang bekerja di harian Pedoman Rakyat bakal terlempar, jika kelak Kompas menerapkan sistem manajemen modern.
Kecurigaan itu semakin keras setelah Ventje S. Manuhua tampil sebagai Pemimpin Umum dan ternyata dia pun gagal mengangkat harian Pedoman Rakyat dari keterpurukan akibat persaingan antar-media, termasuk dengan media cetak nasional dan media televisi.
Ventje sudah beberapa kali gagal dalam memimpin perusahaan. Biro Pedoman Rakyat di Parepare mati di tangannya. Toko Buku Pedoman Rakyat di lantai satu kantor Harian Pedoman Rakyat yang berlantai lima, konon pernah besar ketika dipimpin Buce Rompas, tetapi kemudian mati dan tutup di tangah Ventje.
Dengan demikian, Ventje sudah tiga kali mematikan perusahaan yang dipimpinnya, yakni Biro Pedoman Rakyat di Kota Parepare, Toko Buku Pedoman Rakyat, serta harian Pedoman Rakyat.
Entah apa lagi yang ada di benak Ventje saat ini. Yang pasti, aset Pedoman Rakyat masih banyak, antara lain gedung berlantai lima di Jalan Arief Rate 29, Makassar, serta gedung kantor dan mesin Percetakan Sulawesi.
Ventje boleh saja mengatakan bahwa kedua aset tersebut bukan milik Pedoman Rakyat, karena berada di bawah penguasaan Firma Perak, tetapi semua karyawan tahu bahwa Firma Perak dibentuk LE Manuhua pada sekitar tahun 70-an dan kemudian membawahi harian Pedoman Rakyat dan Percetakan Sulawesi.
Yang lebih aneh lagi, ketika harian Pedoman Rakyat terpuruk dan mengalami masalah, Ventje dengan enteng mengatakan Firma Perak tidak punya kewajiban untuk membantu harian Pedoman Rakyat.
Pada 1 Maret 2008, ketika seharusnya harian Pedoman Rakyat berulang tahun ke-61, di kantor kami Jl. Arief Rate 29, ada acara kecil-kecilan semacam peringatan ulang tahun harian Pedoman Rakyat.
Pertemuan itu seharusnya berlangsung santai, tetapi berubah menjadi serius, terutama karena Ventje mengeluarkan ancaman bahwa wartawan yang sudah tertera namanya sebagai wartawan di koran lain, tidak akan diterima lagi bekerja di harian Pedoman Rakyat dan pesangonnya dibedakan dengan wartawan lain yang belum tertera di koran lain. Dia dengan rasa percaya dirinya yang tinggi, mengaku bertekad akan menerbitkan kembali harian Pedoman Rakyat dan sudah berbicara dengan investor di Jakarta.
Karena tidak senang dengan suasana pertemuan, saya memilih keluar ruangan lalu pergi ke warung kopi. Nyatanya, sampai hari ini, Rabu, 3 September 2008, Ventje ternyata tak mampu mewujudkan tekadnya.

Berpencar

Bagaimana kabar dan nasib teman-teman mantan wartawan dan karyawan harian Pedoman Rakyat?
Sebelum harian Pedoman Rakyat mati (tetapi sudah setengah hidup), beberapa teman wartawan sudah lebih dahulu menyelamatkan diri pindah ke media massa lain dan ada juga yang beralih profesi.
Ketika harian ini dipimpin Peter Gozal, beberapa teman tetap bertahan dan beberapa teman yang lain memilih keluar. Ada pula yang tidak keluar, tetapi juga tidak terlalu aktif karena ada kesibukan lain.
Di bawah kepemimpinan Peter Gozal, karyawan dan wartawan bekera di bawah tekanan mental yang luar biasa, karena banyak aturan yang diterapkan yang disertai ancaman, tetapi tidak diimbangi dengan kesejahteraan yang memadai. Wartawan dan karyawan baru yang direkrut oleh manajemen, banyak yang bergaji lebih tinggi dibanding wartawan dan karyawan lama, padahal jabatannya sama atau bahkan lebih rendah.
Setelah tidak terbit lagi sejak 3 Oktober 2007, teman-teman pada berpencar. Ada yang menerbitkan koran dengan mengajak beberapa teman bergabung, ada yang beralih profesi.
Saya sendiri belum punya pekerjaan tetap, tetapi mengisi waktu dengan mengajar sebagai dosen luar biasa di beberapa perguruan tinggi (berbekal sertifikat sebagai Pelatih Nasional Wartawan PWI), membawakan materi (al: jurnalistik, teknik penulisan artikel, dan teknik pembuatan cerpen) pada berbagai pelatihan, membantu Pak Putra Jaya lebih menghidupkan tabloid mingguan Demos, serta membantu teman membuat buku (editor). Selain itu, saya juga aktif sebagai Ketua Seksi Pendidikan dan Direktur Perpustakaan Pers PWI Sulsel.
Sambil mengenang setahun matinya harian Pedoman Rakyat, saya juga teringat beberapa teman dan senior yang sudah meninggal dunia, antara lain Mahmud Hading (saya beberapa kali keluar kota bersama-sama), Hasanuddin yang akrab disapa Hanter (singkatan dari Hasanuddin Ternate) dan meninggal dunia di kampung halamannya Ternate, dan Arthur Kuse (meja kerja saya berdekatan sehingga kami selalu berdialog dan berdiskusi sambil tertawa-tawa menertawai nasib kami).
Karyawan senior yang juga sudah mendahului kami, antara lain Pak Henny Katili, Pak Karim, Pak Harun, dan Pak Usman Sanaki.
Demikian ungkapan hati saya. Lebih kurangnya mohon dimaafkan, karena sekali lagi ini hanya curahan hati (curhat). Kepada teman-teman yang menjalankan ibadah puasa, selamat berpuasa.

Makassar, 3 September 2008 Masehi / 3 Ramadhan 1429 Hijriyah