Sabtu, 01 Maret 2008

Koran Perjuangan

Koran Perjuangan

(Mengenang Harian Pedoman Rakyat)

Oleh : Asnawin

Hari ini 61 tahun lalu
Engkau hadir
Di tengah masa pergolakan
Di saat rakyat Indonesia sedang berjuang
Mempertahankan kemerdekaan

Hari ini 61 tahun lalu
Engkau hadir
Sebagai koran perjuangan
Media penghubung
Antara rakyat dengan penguasa

Hari ini 61 tahun lalu
Engkau hadir
Memberikan pencerahan
Kepada rakyat
Kepada bangsa Indonesia

Hari ini 61 tahun lalu
Engkau hadir
Memberikan pedoman
Kepada rakyat
Kepada bangsa Indonesia

Hari ini 61 tahun lalu
Engkau hadir
Sebagai cahaya terang
Di tengah kegelapan dan kesamaran
Ketika rakyat membutuhkanmu

Hari ini 61 tahun kemudian
Engkau tak hadir lagi
Engkau menghilang
Entah kemana
Entah sampai kapan

Makassar, 1 Maret 2008

Senin, 18 Februari 2008

Kesedihan Wartawan

Kesedihan Wartawan

Oleh : asnawin

Engkau termasuk makhluk mulia
Engkau ibarat Malaikat Jibril
Yang membawa ayat-ayat Tuhan
Dari langit kepada nabi dan rasul

Engkau termasuk makhluk mulia
Engkau ibarat nabi dan rasul
Yang menyebarkan berita
Dari langit kepada umat manusia

Kesedihanmu adalah kesedihan Malaikat Jibril
Kesedihanmu adalah kesedihan nabi dan rasul
Kesedihanmu adalah kesedihan para pemuka agama
Kesedihanmu adalah kesedihan penyeru kebajikan

Pernahkah engkau bersedih
Kapankah engkau bersedih
Bagaimana bentuk kesedihanmu
Di manakah engkau bersedih

Engkau tak perlu menjawabnya
Engkau tak perlu mengucapkannya
Engkau tak perlu menuliskannya
Karena aku sudah tahu

Engkau bersedih
Ketika tidak lagi
Diberi kepercayaan
Membuat berita

Engkau bersedih
Ketika tidak lagi
Punya kemampuan
Membuat berita

Engkau bersedih
Ketika tidak lagi
Punya media massa
Untuk menyebarkan berita

Makassar, 23 Oktober 2007




Kegelisahan Seorang Wartawan

Oleh : Asnawin

Ada kegelisahan
Ada kesesakan
Ada kesedihan
Ada kemauan

Wartawan gelisah
Wartawan sesak
Wartawan sedih
Wartawan mau

Gelisah ingin maju dan berkualitas
Sesak sebagai anggota organisasi kewartawanan
Sedih melihat sebagian rekan wartawan lain
Mau mengangkat harkat dan martabat korps wartawan

Wahai para pengurus organisasi kewartawanan
Wahai para wartawan senior
Wahai para pemilik media massa
Wahai para wartawan muda

Masih adakah kegelisahan di tubuh kita
Masih adakah kesesakan di dada kita
Masih adakah kesedihan di hati kita
Masih adakah kemauan di diri kita

Semarang, 29 Agustus 2007

(dua puisi ini dimuat di Harian Fajar, pada 17 Februari 2008)

Minggu, 17 Februari 2008

Alumni Pedoman Rakyat Terbitkan Koran

ALumni Pedoman Rakyat Terbitkan Koran

Ketika harian Pedoman Rakyat masih terbit, beberapa wartawannya sudah berani keluar dan menerbitkan koran atau majalah sendiri.

Setelah tidak terbit lagi sejak 3 Oktober 2007 hingga kini, sejumlah "alumni" Pedoman Rakyat lagi-lagi menampakkan diri dengan menerbitkan koran dan majalah, antara lain Tabloid Mingguan LACAK oleh Dais Labanci di Kabupaten Sidrap, Tabloid Mingguan SOROT oleh James Wehantouw, Khairil, Syafruddin (Safar), Jurlan, Muhammad Amir, dan Norma Djiddin.

Arief Djasar dan beberapa teman juga menerbitkan Tabloid Mingguan SOLUSI, sedangkan Sultan, bersama Indarto, Mahyudin, yang disokong oleh Dahlan Abubakar dan HL Arumahi, menerbitkan Majalah Bulanan PROFILES.

Selamat kepada teman-teman alumni Pedoman Rakyat. Semoga kalian bisa tetap eksis bersama penerbitan masing-masing.

Senin, 21 Januari 2008

Sejarah Harian PEDOMAN RAKYAT


Harian Pedoman Rakyat adalah surat kabar Indonesia yang terbit di Makassar sejak 1 Maret 1947. Pendirinya adalah Soegardo (1916-1955) dan Henk Rondonuwu (1910-1974). Harian Pedoman (terbit perdana dalam bentuk majalah bulanan dengan nama Pedoman, pada Sabtu, 1 Maret 1947) lahir dari perjuangan untuk tetap memperjuangkan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Pedoman Rakyat Wafat



Pedoman Rakyat ‘’Wafat’’

Oleh: Asnawin

Tragis. Mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan ‘’wafatnya’’ harian Pedoman Rakyat (PR). Salah satu Koran tertua di Indonesia itu sudah tidak terbit sejak 3 Oktober 2007.

Ya, sungguh tragis, karena koran yang terbit sejak 1 Maret 1947 itu harus mati di era reformasi dan justru ketika di bawah kendali Ventje Manuhua, anak kandung almarhum LE Manuhua.

LE Manuhua adalah orang yang berjasa menjaga Pedoman Rakyat dari berbagai tindakan intimidasi pemerintah kolonial Belanda, sehingga mampu bertahan hidup dan tetap terbit hingga beliau wafat pada tahun 2003. LE Manuhua dikenal sebagai salah seorang tokoh pers nasional.

Ventje Manuhua sebagai anak dan penerus, ternyata tak mampu menjaga eksistensi harian Pedoman Rakyat. Mungkin ada hubungannya dengan latar belakang Ventje yang memang bukan wartawan (berbeda dengan ayahnya, almarhum LE Manuhua, yang memang wartawan tulen), tetapi ‘’wafatnya’’ Pedoman Rakyat lebih disebabkan karena kebodohan dan ketamakan Ventje.

Ventje terlalu bodoh untuk menjadi Direktur Utama atau pun Pemimpin Umum sebuah harian umum. Celakanya, ketika terbukti tak mampu mengembangkan harian Pedoman Rakyat, dia tidak juga mau memberi kesempatan kepada orang lain atau orang yang profesional dalam mengelola sebuah perusahaan surat kabar.

Bagi Ventje, lebih baik mati bersama Pedoman Rakyat daripada menyerahkan pengelolaan surat kabar tersebut kepada orang lain. Aksi unjukrasa dari wartawan dan karyawan yang memintanya mengundurkan diri dan menyerahkan pengelolaan harian Pedoman Rakyat kepada orang lain tidak digubris.

Akhirnya, Pedoman Rakyat memang benar-benar mati.

Selamat tinggal Pedoman Rakyat. Semoga engkau bisa hidup kembali, karena engkau sudah beberapa kali mati tetapi bisa hidup kembali.

Kepada Ventje Manuhua, selamat berpesta dan bergembira ria.

Kepada para mantan wartawan dan karyawan Pedoman Rakyat, selamat berjuang menempuh hidup baru, semoga kejadian ini ada hikmahnya.