Pos

Menampilkan pos dari Agustus, 2007

Pesta Rakyat dan Pesta Penguasa

Pesta Rakyat dan Penguasa

Oleh : Asnawin
email : asnawin@hotmail.com

Negeri Khatulistiwa tengah diliputi suasana peringatan kemerdekaan. Banyak sekali kegiatan yang dilakukan oleh kerajaan, oleh berbagai lembaga, oleh berbagai organisasi, dan oleh rakyat.

''Saya merasa senang karena masih bisa menyaksikan berbagai kegiatan dalam rangka peringatan proklamasi,'' kata Daeng Tompo, pria berusia 70 tahun lebih, kepada rekannya Daeng Ngawing, yang usianya tidak jauh beda dengannya.

Mereka berdua masih bocah berusia sekitar sepuluh tahun, ketika Negeri Khatulistiwa memerdekaan diri dari penjajahan Negeri Kincir Angin.

Daeng Tompo senang karena berbagai lomba telah dan sedang dilaksanakan di kelurahannya.

Daeng Tompo yang masih dipercaya menjabat Ketua RW, gembira karena di kelurahannya ada lomba mendongeng, lomba senam poco-poco, lomba pidato, lomba karaoke, lomba joget, lomba panjat pinang, pertandingan sepakbola yang pemainnya semua laki-laki tetapi memakai daster, pertandingan do…

Proklamasi dan Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Proklamasi dan Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Oleh: Asnawin
email:
asnawin@hotmail.com

Udding, bocah berusia 7 tahun, asyik bermain-main bersama beberapa temannya sesama bocah laki-laki di permandian Limbua', Hila-hila, Kecamatan Bontotiro, Bulukumba.
Mereka sangat ceria. Mereka mandi di permandian itu untuk mempersiapkan diri ke masjid melaksanakan salat Jumat.
Pada saat bersamaan di Jakarta, sejumlah pemuda sedang mengawal Soekarno dan Mohammad Hatta, di kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56.
Mereka semua tegang. Mereka tengah mempersiapkan pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Udding dan kawan-kawan sedang bersiap-siap ke masjid, ketika Soekarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan RI. Uddin dan kawan-kawan sama sekali tidak tahu bahwa pada hari itu negaranya sudah merdeka.
Udding memang belum sekolah ketika itu. Ia baru dimasukkan ke Sekolah Rakyat (SR), pada usia delapan tahun atau setahun setelah Indonesia merdeka.
Ayah dan ibunya, Gudang Daeng Bone dan Dekka Daeng Pute'…

Mengenang Detik-detik Proklamasi (3-habis)

Gambar
Pagi harinya, di kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56 telah hadir antara lain Soewirjo, Wilopo, Gafar Pringgodigdo, Tabrani, dan Trimurti. Acara dimulai pada pukul 10.00 WIB dengan pembacaan proklamasi oleh Soekarno, dan disambung pidato singkat tanpa teks. Kemudian bendera Merah Putih, yang telah dijahit oleh Ibu Fatmawati, dikibarkan, disusul dengan sambutan oleh Soewirjo, Wakil Walikota Jakarta saat itu, dan Moewardi, pimpinan Barisan Pelopor.

Mengenang Detik-detik Proklamasi (2)

Gambar
RUMAH PERSINGGAHAN. Inilah rumah persinggahan Soekarno (bersama isterinya, Fatmawati, dan anaknya Guntur yang baru berusia 9 bulan) dan Hatta, saat “diculik” kaum muda, sehari menjelang Proklamasi Kemerdekaan RI. Rumah milik warga Karawang, Djiauw Kie Song, terletak di Jalan Sejarah, Dusun Kalijaya I Desa Rengasdengklok Utara, Karawang, Jawa Barat. (int)

Mengenang Detik-detik Proklamasi (1):

Gambar
PROKLAMASI. Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dibacakan pada hari Jumat, 17 Agustus 1945 Tahun Masehi, atau 17 Agustus 2605 menurut tahun Jepang, atau 17 Ramadan 1365 Tahun Hijriah. Naskah proklamasi dibacakan oleh Ir Soekarno, didampingi oleh Drs Muhammad Hatta, di Jalan Pegangsaan Timur 56, Cikini, Jakarta Pusat.


Bawalah Selalu "Buku Pintar"

Bawalah Selalu "Buku Pintar"

Makassar, (PR).
Novelis Naning Pranoto menganjurkan kepada para penulis cerpen pemula agar selalu membawa "buku pintar" (buku tulis, red) dan mencatat setiap ada ide yang muncul, serta tanggal munculnya ide tersebut.

Mantan wartawan yang kini mengajar di beberapa perguruan tinggi itu, juga menganjurkan agar para penulis cerpen pemula banyak membaca, banyak bergaul, menulis dengan disiplin, menyediakan alat tulis yang memadai, menyiapkan ruang (tempat dan waktu), serta berambisi membuat karya.

Anjuran tersebut dikemukakan menjawab pertanyaan salah seorang peserta Pelatihan Penulisan Kreatif untuk Cerita Pendek Tingkat Nasional, di Gedung Bakti Jl. Dr. Soetomo, Makassar, Senin (20/8).

Naning tampil bersama budayawan Sides Sudyarto DS, pada pelatihan yang diadakan Taman Sastra Makassar dan diikuti 50 peserta dari unsur pelajar, mahasiswa, guru, dosen, wartawan, seniman, Balai Bahasa, dan masyarakat umum.

''Kita juga harus menulis d…

Ironi Mengejar Kekuasaan

Gambar
Asnawin

Ironi Mengejar Kekuasaan

Oleh: Asnawin
email:
asnawin@hotmail.om

Alkisah, pada zaman dahulu kala, ada sebuah negeri yang penduduknya sangat religius. Raja dan rakyatnya menerapkan hidup sederhana. Meskipun hidup sederhana, Raja sangat berwibawa dan dihormati. Rakyat begitu bangga kepada rajanya.
Sebaliknya, Sang Raja pun sangat sayang rakyatnya. Raja sering terang-terangan berkunjung dan bergaul dengan rakyat, tetapi pada saat lain, ia menyamar lalu berkunjung dan bergaul dengan rakyatnya.
Sebagai raja, ia tak lupa membangun sekolah dan rumah sakit. Ia juga membangun gudang gandum.
Dengan adanya sekolah, semua rakyat menjadi pintar membaca dan menulis.
Dengan adanya rumah sakit, rakyat yang sakit bisa diobati secara gratis, bahkan rakyat miskin disantuni, baik selama dirawat di rumah sakit, maupun selama masa penyembuhan.
Dengan adanya gudang gandum, rakyat yang kesusahan di masa paceklik, bisa mendapatkan bantuan dari raja.
Suatu hari raja sakit dan tak lama kemudian mangkat. Raky…

Sejarah Kota Makassar (7-habis)

Gambar
VOC (Belanda) yang datang belakangan, ingin menaklukkan wilayah-wilayah di nusantara, termasuk pelabuhan Makassar, tetapi Sultan Hasanuddin sebagai Raja Gowa tidak memberi peluang. Sultan Hasanuddin membuka peluang yang sangat luas bagi para pedagang untuk melakukan aktivis dagang tanpa mempersoalkan asal kebangsaannya, termasuk VOC, tetapi VOC ingin lebih dari itu yakni ingin menguasai jalur-jalur perdagangan di wilayah timur. (int)

Sejarah Kota Makassar (6):

Gambar
SYECH YUSUF. Pesan-pesan terselubung Syech Yusuf kepada Raja Banten dan Raja Makassar (Gowa) akhirnya tercium oleh Kompeni di Batavia. Pemerintah Kompeni terkejut atas terjadinya pemberontakan rakyat Banten, pemberontakan Haji Miskin di Sumatera Barat, dan pemberontakan Sultan Abdul Jalil (Raja Gowa yang ke-19) yang menggugat perjajian Bungaya dan menginginkan agar Fort Rotterdam dikembalikan kepada Kerajaan Gowa. (foto: wikipedia.org)

Sejarah Kota Makassar (5):

Gambar
Tidak diragukan lagi, nama Makassar menjadi buar bibir dan harum di beberapa negara karena perjuangan, kebesaran, dan ketokohan Syech Yusuf.
Syech Yusuf adalah putra asli suku bangsa Makassar. Ia adalah anak dari Raja Gowa ke-14, Sultan Alauddin (memerintah pada 1593-1639) dari isterinya Sitti Aminah (bukan permaisuri). Syech Yusuf lahir pada 1626, ketika ayahnya giat melakukan Islamisasi ke dalam masyarakat Sulawesi Selatan.

Sejarah Kota Makassar (4):

Gambar
''Untuk tidak mengecewakan, maka kota pelabuhan Makassar diberi hadiah sebagai pintu gerbang, tempat berlalunya kegiatan perdagangan maritim ke kawasan timur Indonesia maupun ke negara asing lainnya. Predikat itu juga berkenan dengan pemberian status kotamadya (staatsgemeente) pada April 1906, bersama empat kota lainnya, yakni Batavia, Semarang, Surabaya, dan Medan,'' ungkap Edward L Poelinggomang. (int)

Sejarah Kota Makassar (3):

Gambar
BENTENG SOMBA OPU. Dengan dasar itulah, Speelman menulis surat kepada Gubernur VOC di Batavia yang melaporkan bahwa pihak penguasa Kerajaan Makassar belum bersedia menerima sepenuhnya butir-butir perjanjian dan tetap menunjukkan sikap permusuhan.

Perang pun tak terhindarkan lagi antara tahun 1668 hingga 1669, tetapi perang dimenangkan oleh kompeni yang kemudian membumihanguskan Benteng Sombaopu.

Sejarah Kota Makassar (2):

Gambar
BENTENG UJUNGPANDANG. Untuk melindungi kegiatan perdagangan di kota pelabuhan itu, pemerintah Kerajaan Makassar membangun sejumlah benteng pertahanan sepanjang pesisir dari yang paling utara Benteng Tallo hingga yang paling selatan Benteng Barombong. Selain benteng, sepanjang wilayah pesisir kota juga dibangun tembok yang di depannya berjejer perahu dan kapal dagang dari berbagai kerajaan di Asia Tenggara, China, dan dari Eropa. (Foto: Asnawin)

Sejarah Kota Makassar (1): Nama Makassar Sudah Ada Sejak 1364

Gambar
BALAIKOTA MAKASSAR. Makassar adalah nama tempat bandar niaga kerajaan kembar Gowa dan Tallo. Kerajaan kembar itulah yang kemudian menyandang nama Kerajaan Makassar. Nama Makassar sudah disebut dalam naskah kuno Jawa, Negara Kertagama, yang ditulis oleh Prapanca, pada 1364. Naskah itu juga menyebut nama Luwu, Bantaeng, dan Selayar. (int)

Syair Asli 'Indonesia Raya'

(Cipt: WR Soepratman)

Stanza 1:

Indonesia Tanah Airkoe
Tanah Toempah Darahkoe
Disanalah Akoe Berdiri
Djadi Pandoe Iboekoe

Indonesia Kebangsaankoe
Bangsa Dan Tanah Airkoe
Marilah Kita Berseroe
Indonesia Bersatoe

Hidoeplah Tanahkoe
Hidoeplah Negrikoe
Bangsakoe Ra'jatkoe Sem'wanja

Bangoenlah Djiwanja
Bangoenlah Badannja
Oentoek Indonesia Raja

Reff:
Indonesia Raja Merdeka Merdeka
Tanahkoe Negrikoe Jang Koetjinta
Indonesia Raja Merdeka Merdeka
Hidoeplah Indonesia Raja

(Diulang dua kali)

Stanza 2:

Indonesia Tanah Jang Moelia
Tanah Kita Jang Kaja
Disanalah Akoe Berdiri
Oentoek Slama-Lamanja

Indonesia Tanah Poesaka
P'saka Kita Semoenja
Marilah Kita Mendo'a
Indonesia Bahagia

Soeboerlah Tanahnja
Soeboerlah Djiwanja
Bangsanja Ra'jatnja Sem'wanja

Sadarlah Hatinja
Sadarlah Boedinja
Oentoek Indonesia Raja

Reff:
Indonesia Raja Merdeka Merdeka
Tanahkoe Negrikoe Jang Koetjinta
Indonesia Raja Merdeka Merdeka
Hidoeplah Indonesia Raja

(Diulang dua kali)

Stanza 3:

Indonesia Tanah Jang Seotji
Tanah Kita Jang Sakti
Disanalah Ako…

'INDONESIA RAYA' YANG ASLI DITEMUKAN

YOGYAKARTA, (PR).
  Setelah dicari selama puluhan tahun, akhirnya rekaman asli lagu kebangsaan Indonesia Raya berhasil ditemukan. Dokumen penting itu ditemukan di server Belanda sekitar 2 bulan lalu atas jasa pakar telematika Kanjeng Raden Mas Tumenggung (KRMT) Roy Suryo bersama relawan teknologi informasi 'Air Putih'.
  "Untuk selanjutnya rekaman asli ini akan kita serahkan ke negara sebagai arsip," kata Roy Suryo, kepada wartawan di Jakarta, Jumat (3/8), seperti dilansir kantor berita antara dan www.media-indo.com.
  Dokumen yang berupa video klip berdurasi 3 menit 49 detik ini dibuat pada September 1944. Pihaknya baru berani mengumumkan penemuan ini karena perlu waktu untuk melakukan uji keaslian rekaman itu.
  Roy mengatakan pihaknya telah melakukan konfirmasi dengan berbagai pihak, termasuk dengan Kepala Arsip Nasional Djoko Utomo, yang mengakui bahwa meski sudah puluhan tahun mencari, namun pihaknya belum menemukan rekaman asli lagu Indonesia Raya.
  Selain itu,…

Kampanye dan Propaganda

Gambar
KAMPANYE. Jangan pernah berharap kampanye politik akan berlangsung positif, bersih, dan sehat. Sebaliknya, jangan pula terlalu khawatir dengan adanya kampanye negatif, kampanye hitam, atau pun propaganda negatif.Mengapa? Karena setiap pasangan kandidat presiden/wapres, kandidat gubernur/wagub, kandidat walikota/wawali, kandidat bupati/wabup, dan kandidat kepala desa, pasti ingin tampil sempurna.